Showing posts with label STARTUP. Show all posts
Showing posts with label STARTUP. Show all posts

Punya Istri Cuma Satu, Ayo Poligami Dapatkan Istri Selanjutnya

Add Comment
Perkembangan dunia startup di indonesia semakin pesat, berbagai istansi, inkubator dan lainnya berlomba-lomba untuk mewujudkan misi pemerintah agar indonesia punya 1000 stratup pada tahun 2020 yang mendapatkan unicorn founding dan memunculkan keunikan keunikan dari setiap daerah di indonesia, mulai dari ide startup tentang Travel, E-commerce, sampai tentang Kehilangan barang




Namun Ada yang unik dalam event startup baru-baru ini muncul, sesuai judulnya poligami, ada salah satu startup yang memakai ide ini yakni Ayopoligami.com Poligami adalah sistem perkawinan yang salah satu pihak memiliki atau mengawini beberapa lawan jenisnya dalam waktu yg bersamaan. Dalam antropologi sosial, poligami merupakan praktik pernikahan kepada lebih dari satu suami atau istri (sesuai dengan jenis kelamin orang bersangkutan).

Banyak wanita yang tidak rela bila suaminya menikah lagi, hmmm saya pun juga tidak menganjurkannya, walaupun poligami tidak dilarang dalam agama maupun pemerintah, tapi hal ini masih sedikit tabu untuk sebuah keluarga.




Tapi keberanian startup ini patut di acungi jempol, karena mereka mengangkat tema poligami. Dalam ulasannya, AyoPoligami.com adalah platform yang berusaha untuk mempertemukan pengguna pria dengan wanita yang bersedia membuat ‘keluarga besar’ dari satu suami. Para lajang maupun yang sudah menikah, janda atau duda, diterima dengan tangan terbuka di sini. Platform ini dibuat oleh Pandu Solusi dengan mendapatkan bintang sebanyak 4.5 dan peringkat 3

Walaupun masi menimbulkan pro dan kontra, nyatanya aplikasi ini telah di unduh lebih dari 1000 kali dengan berbagai tanggapan di komentarnya, Anda berniat mencoba? saya sarankan minta persetujuan istri anda dulu ya, Punya Istri Cuma Satu, Ayo Poligami Dapatkan Istri Selanjutnya. Kalo disetujui silahkan download aplikasinya di Playstore.

Jika Anda Suka Artikel Ini, Share Dan Like Di Kolom Bawah Ini.


Persaingan Sengit Kompetitor, Alasan Tiket Terima Pinangan Akuisisi dari Blibli

Add Comment
Pada tanggal 15 Juni 2017, Chief Communication Officer Tiket.com Gaery Undarsa mengumumkan kalau sejak tanggal 12 Juni 2017 yang lalu startup yang ia pimpin telah diakuisisi seratus persen oleh e-commerce Blibli. Persaingan yang sengit dengan layanan pemesanan tiket dan hotel lain seperti Traveloka, menjadi sebagai alasan di balik akuisisi ini.

“Ini salah satu hal yang menarik. Tiket sudah enam tahun berdiri, telah meraih pendapatan beberapa triliun rupiah, tapi kami hanya mempunyai angel investor. Di akhir 2016, kami mulai melihat kalau skala persaingan sudah begitu sengit. Kami butuh mitra, dan mulai membuka pintu untuk investor,” ujar Gaery.

Mengenai alasan mengapa memilih Blibli sebagai investor, Gaery mengatakan kalau pihak Tiket merasa ada beberapa persamaan sejak melakukan pertemuan dengan pihak Blibli untuk pertama kalinya. “Kami merasa ada chemistry, sudah nyambung sejak pertemuan pertama. Itu menurut saya yang enggak bisa dibeli,” ucapnya.

Sedangkan CEO Blibli, Kusumo Martanto, mengungkapkan pihaknya tertarik mengakuisisi Tiket karena melihat besarnya bisnis travel online. Blibli sendiri saat ini telah mulai berekspansi menjual tiket kereta api dan hotel.

“Dari situ kita mulai berpikir, mau pertumbuhan secara organik, atau mencari perusahaan lain untuk dijadikan partner. Saat teman-teman dari Tiket datang, kami lihat boleh juga. Visi misi sama, ingin bisnis yang suistanable,” ujar Kusumo.

Mengenai nominal investasi yang digelontorkan untuk mengakuisisi Tiket, Kusumo tak bisa mengungkapkannya. “Pokoknya secara jumlah, semua happy lah,” timpal Gaery.

George Hendrata menjadi CEO baru Tiket



Setelah proses akuisisi, tak ada terlalu banyak perubahan terkait susunan manajemen di Tiket. Gaery Undarsa akan tetap menempati posisi CCO, dan Natali Ardianto pun akan tetap mengisi posisi CTO.

Praktis hanya posisi CEO Tiket saja yang mengalami perubahan. Jabatan tersebut akan dipegang oleh George Hendrata, yang juga menjabat sebagai Direktur Pengembangan / Diversifikasi Bisnis Djarum, yang merupakan pemilik dari Blibli.

Setelah resmi menjabat CEO Tiket, George mengatakan akan tetap fokus menghadirkan yang terbaik bagi para pelanggan. Menurutnya, proses akuisisi ini membuat penyatuan bisnis travel yang lebih rapi antara Blibli dan Tiket.

Kedua perusahaan tersebut pun akan tetap beroperasi secara terpisah. “Perusahaan nanti berjalan sendiri-sendiri. Tapi kita sudah ada rencana apa yang akan kita kerjakan bersama,” pungkas Gaery.

Developer Circles dari Facebook, Kesempatan Emas Buat Raih Sukses!

Add Comment
.

Siapa sih yang gak kenal Facebook? Indonesia udah jadi negara dengan pengguna Facebook terbanyak dan kabar baiknya sekarang makin banyak kesempatan emas buat para pengembang lokal di Indonesia karena program baru yang baru diumumkan oleh Facebook
Ya, Akhirnya secara resmi, Facebook meluncurkan Developer Circles (DevC), sebuah program baru untuk pengembang aplikasi di seluruh dunia untuk terhubung, belajar, dan berkolaborasi dengan pengembang lokal lainnya.

Developer Circles dari Facebook, Kesempatan Emas Buat Raih Sukses!

Diprakarsai Komunitas Lokal



Kalian bisa bergabung gratis dan terbuka lebar bagi pengembang manapun. Masing-masing Developer Circle akan dipimpin oleh anggota komunitas lokal yang berperan sebagai pemimpin dalam circle, mengadakan aktivitas offline dan mengelola komunitas lokal Facebook secara online.

Kali ini bermitra dengan Malang Digital Innovation Lounge dan SUB Co menyelenggarakan pertemuan F8 di Malang dan Surabaya untuk mengumpulkan startup, pengembang dan pemsar lokal. Kesuksesan buat mereka bisa dimulai dari sini.

Kedua kota ini selalu berada dalam peringkat tiga besar dibandingkan dengan DevC lainnya di seluruh dunia.


Didukung oleh Facebook


Facebook bakal ngebantu banget buat kamu yang pengen membangun startup, pasalnya dengan Developer Circles, bakal mudah untuk mengadakan pertemuan dan hackaton. Masing-masing circle local juga akan memiliki Facebook Group khusus jadi bisa terus saling terhubung.

Gak hanya itu, pengembang bisa berbagi kode, tautan, video dan apapun yang telah mereka bagikan di Facebook. Ada juga tahap percobaan pada fitur Grup Facebook dengan komunitas Developer Circles kayak unit pembelajaran sosial yang terdiri dari pelatihan yang berurutan yang memungkinkan pengembang untuk memperdalam pengetahuan mereka mengenai React dan Bot di Messenger. Kapan lagi bisa dapet ilmu gratis!

Lalu, Udacity salah satu platform pelatihan terbesar di dunia juga jadi mitra untuk meluncurkan program pelatihan Facebook yang dapat di kustomisasi untuk komunitas Developer Circles, yang akan tersedia melalui Facebook Group Developer Circles, Weber Shandwick dan Udacity.

Pengembang Lokal Punya Potensi

Ketika program Developer Circles masih dalam tahap awal, terlihat potensi besar dari komunitas pengembang lokal.

Salah satu contohnya, Faten Ghriss, pemimpin Developer Circle di Tunisia, mempelajari Computer Network and Telecommunication Science di Tunisia, namun menghabiskan satu tahun untuk program pertukaran pelajaran di Minnesota, Amerika Serikat yang membuatnya menyadari untuk berkontribusi kepada komunitas. Akhirnya, ia balik ke Tunisia dan mendirikan oung Tunisian Coders Academy yang mengajarkan anak-anak untuk coding.

Faten pertama kali denger tentang Developer Circle di suatu konferensi, saat itu ia juga menjadi pembicaranya. Gak lama akhirnya memutuskan untuk bikin Circlenya sendiri dan ngadain pertemuan pertama pada bulan Maret 2017. Pertemuan yang berfokus pada Bot di Messenger itu sekarang memiliki lebih dari 200 pendaftaran dan berdasarkan pungutan suara dari komunitas ia menyelenggarakan pertemuan selanjutnya melalui virtual reality dan machine learning.
Cara Mengikuti Developer Circles

Banyak orang yang udah ngerasain manfaatnya, seperti dapet pekerjaan baru, terhubung dengan coding bootcamps dan mendapatkan dukungan langsung untuk membuat produk pengembang Facebook.

Developer Circles dari Facebook ini terbuka untuk semua orang di seluruh dunia, jadi tunggu apalagi? Yuk, gabung dan ajak teman-temanmu! Udah saatnya kamu ambil kesempatan emas ini, kunjungi Developer Circles Facebook untuk tau info selanjutnya.



 

Kemelut Antara Transportasi Konvensional dan Online, Siapa Yang Benar?

Add Comment
Berita gelombang aksi penolakan transportasi online semakin menyebar, boikot sampai mogok mangkal terjadi di wilayah yang terserang perluasan transportasi, UBER, GO-jek, Grab, adalah media transportasi online yang sering mendapat penolakan, mulai dari jakarta, bogor, bali, malang semua angkutan menolak transportasi online, dengan dalih menurunnya jumlah penumpang, lantas siapa yang benar? mengapa transportasi online disalahkan?



Mari kita mengulas sedikit saja tentang transportasi online, mungkin pertanyaan anda kenapa gojek bisa sebesar itu, apalagi Uber Dan Grab? padahal lebih dulu angkutan konvensional? perlu di ketahui Go-jek Belum lama ini, perusahaan penyedia transportasi online Go-Jek mendapat suntikan dana $550 juta atau setara Rp7 triliun (kurs Rp13.000 per dolar AS) dari perusahaan investasi asal Amerika Serikat KKR & Co. dan Warbug Pincus. Siapa sangka, investasi perusahaan asing tersebut membuat Go-Jek kini lebih bernilai daripada perusahaan transportasi konvensional?



Masuknya modal besar membuat perusahaan transportasi berbasis teknologi ini lebih bernilai daripada perusahaan transportasi konvensional besar yang sejak lama beroperasi di Indonesia, seperti maskapai Garuda Indonesia, dan operator taksi Blue Bird, yang sebenarnya memiliki aset bernilai tinggi. dan di kabarkan melebihi Garuda Indonesia? hal seperi inilah yang membuat kecemburuan di kalangan angkutan umum.

Pada dasarnya cara kerja Gojek ini adalah mempermudah cara memesan layanan seperti ojek, antar makanan dan layanan-layanan lainnya melalui aplikasi android/iOS dengan informasi tarif yang sudah diinformasikan sebelumnya

Pemerintah pun turut andil dalam menerapkan kebijakan, tapi apakah dengan menerapkan tarif atas dan bawah akan mampu meredam para supir angkutan yang marah karena penumpangnya mulai sepi?

Namun yang perlu di garis bawahi, model bisnis aplikasi seperti Go-Jek, ini hanya mempertemukan pemilik kendaraan dan user atau penumpang. pada dasarnya kalau mereka terlebih dulu merangkul para angkutan umum, mungkin aksi demo seperti itu tidak akan terjadi.

salah satu startup di malang bernama Tabook, adalah salah satu startup yang menerapkan model bisnis yang berbeda, tabook adalah startup yang bergerak dalam bidang travel, layaknya traveloka mereka terlebih dahulu merangkul para agen kendaraan umum untuk di jadikan bagian dari aplikasi secara struktural.

Jadi menurut kalian sistem manakah yang baik untuk di terapkan di indonesia? tulis pendapatmu di komentar!!

4 Hal Yang Harus Kamu Ketahui Sebelum Mencari Partner Usahamu

Add Comment
4 Hal Yang Harus Kamu Ketahui Sebelum Mencari Partner Usahamu
Linkfo.id--- Membangun usaha sejak usia muda menjadi pilihan anak muda saat ini, dengan title keren membuat para anak muda sekarang mencoba keberuntungan di dunia usaha, dengan usaha gigih untuk suskses menjadikan dunia usaha lebih menjanjikan seperti contohnya Yasa Singgih founder dari Men’s Republic brand fashion untuk pria, sampai pengusaha muda Willian T founder dari Tokopedia.



Ada beberapa hal yang harus di pastikan sebelum memulai usaha,Pengusaha bilang 98% usaha itu adalah gagal, bukan bagaimana ide kita atau sebagus apapun ide kita namun yang paling mempengaruhi adalah bagaimana eksekusi kita terhadap ide itu, action kita yang menentukan ide itu bagus atau tidak, ide itu jalan atau tidak,

Dari banyaknya value yang mempengaruhi usaha kita salah satunya adalah Co-founder, kenapa co-founder? co-founder adalah orang atau partner usaha yang membantu kita mengembangkan usaha kita, yang mengoreksi kita kalau ada kesalahan, mengkolaborasikan ide kita agar jalan dan sustainable.

4 Hal Yang Harus Kamu Ketahui Sebelum Mencari Partner Usahamu

1. Visi Misi Yang Sama
Penting sekali bagi kita saat akan membuat sebuah usaha, anak sekarang bilang startup, visi misi penting karena tanpa kesamaan tujuan usaha kita tidak akan berkembang, atau bercabang tidak jelas dan ujung-unjungnya bentrok karena pemikiran yang tidak sama, menentukan visi misimu dan membagikannya ke co-founder yang cocok untukmu membuat kamu semakin bersemangat untuk membangun usahamu



2. Kenapa Kamu Membutuhkan Co-founder?
Dari statement di atas kamu juga harus memikirkan kenapa kamu perlu co-founder?, dengan adanya co-founder kamu bisa berbagi ide yang kamu fikirkan, ide itu murah tapi yang mahal adalah eksekusinya dengan adanya co-founder kamu dapat mengkolaborasikan idemu, mendapat support emotional ketika usahamu berada di ujung tanduk, co-founder adalah orang yang dapat memotivasimu.



3. The TEAM
Tim yang solid membuat proses dalam usaha semakin mudah, selain itu tugas yang berbedabeda membutuhkan skill yang berbeda-beda, kamu tentunya tidak ingin jadi superman yang menjalankan semuanya sendirian kan ? dengan adanya co-founder tugasmu jadi lebih ringan, Co-founder yang punya koneksi yang banyak bakalan membantu dan membuat usahamu lebih dikenal.




4. Kamu Perlu Mengetahui Pyramid Framework
Kata co-founder kibar mencari co-founder ibarat mencari jodoh, harus klik, harus match, harus cocok, untuk mengetahui itu semua kamu perlu belajar yang namanya pyramid framework, metode yang sering digunakan para pengusaha, mulai dari dasar yakni share vision, Mutual Trust, Complementary skill, sampai puncak piramid compatible personalities



-shared vision seperti yang telah di jelaskan di awal, yakni visi misi yang sama dan konkrit yang menjadi acuan untuk menjalankan usaha
-Mutual Trust Kepercayaan adalah kunci mencari co-founder kamu harus percaya dengan partnermu, kamu harus percaya apa yang dikerjakan partnermu sebagai bagian dari masing-masing tugas, loyalitas tinggi, presisten, fair.
-Complementary Skill skill yang berbeda akan menciptakan kolaborasi yang hebat
-Compatible Personality Yang penting Cocok dan saling melengkapi.


The 10 Most Popular Startup Revenue Models

Add Comment

Regardless of how good your product, service, or app is, it’s only useful when you can get it into the hands of your target customers. But once you’ve got a finalized offering, selling it should be easy, right? Not really. There are countless factors that need to be taken into account when you set out to bring your product to market, like the industry you’re in, whether you’re selling a web-based product or physical hardware, the channels you use to attract your customers, etc.

And that’s why we’ve prepared an extensive guide that clearly outlines some of the most commonly used revenue models startups use to sell their offerings, along with the advantages and disadvantages of each to help you pick the best revenue model for your company.

Business Model vs Revenue Model vs Revenue Stream

Before we delve into the different types of revenue models, we should spend a little time differentiating between the terms "business model", "revenue model", and "revenue stream", as they are very often used interchangeably. In the GlowingStart article, "What Is The Difference Between A Revenue Model, Revenue Stream And A Business Model", Alex Genadinik does a great job explaining the difference between those terms. They are summarized below:

    A revenue stream is a company’s single source of revenue. A company can have zero or many revenue streams, depending on its size.

    A revenue model is the strategy of managing a company’s revenue streams and the resources required for each revenue stream.

    A business model is the structure comprised of all aspects of a company, including revenue model and revenue streams, and describes how they all work together.

Types of Revenue Models

There are numerous types of revenue models, so this list in no way attempts to list them all, especially since so many of them go by other names in the startup community. However, below are ten of the most popular and effective revenue models employed by companies, both big and small.

Genadinik’s article, “Different Revenue Models”, covers some of the more common revenue models that countless recently-launched startups use to generate their first sales. Here are the revenue models he covers below:

1. Ad-Based Revenue Model

Ad-based revenue models entail creating ads for a specific website, service, app, or other product, and placing them on strategic, high-traffic channels. If your company has a website or you have a web-based company, Google’s AdSense is one of the most common tools get ads. For most websites, AdSense will earn about $5-10 per 1,000 page views.

    Advantages: Making money from ads is one of the simplest and easiest ways to implement revenue models, which is why so many companies utilize ads as a source of revenue.
    Disadvantages: In order to generate sufficient revenue to withhold a business, you will need to attract millions of users. In addition, most people find ads annoying, which can lead to low clickthrough rates, and therefore, lower revenue.

2. Affiliate Revenue Model

Another popular web-based revenue model is the affiliate revenue model, which works by promoting links to relevant products and collecting commission on the sales of those products, and can even work in conjunction with ads or separately.

    Advantages: One of the most obvious benefits of employing an affiliate revenue model is that it generally makes more money than ad-based revenue models.
    Disadvantages: If you use an affiliate revenue model for your startup, remember that the amount of money you make is limited to the size of your industry, the types of products you sell, and your audience.

3. Transactional Revenue Model

Countless companies, both tech-oriented and otherwise, strive to rely on the transactional revenue model, and for good reason too. This method is one of the most direct ways of generating revenue, as it entails a company providing a service or product and customers paying them for it.

    Advantages: Consumers are more attracted to this experience because of its simplicity and the wider set of options.
    Disadvantages: Because of the directness of the transactional revenue model, many companies employ it themselves, which means more competition and price deterioration, and therefore, less money to made for everyone who uses this model.


4. Subscription Revenue Model

The subscription revenue model entails offering your customers a product or service that customers can pay for over a longer period of time, usually month to month, or even year to year.

    Advantages: If your company is far enough along in its development, this model can generate recurring revenue, and can even benefit from customers who are simply too lazy to cancel their subscription to your company (which is the dirty little secret of a subscription-based model).
    Disadvantages: Because this model depends so much on having a large consumer base, it’s critical to maintain a higher subscribe rate than an unsubscribe rate.

In the blog post “Comparing Business Models to Sales Models”, Dave Parker outlines the various ways that a company can sell their product or service, emphasizing how the market you pick affects the way in which you take your product to market. Here are the methods he describes:

5. Web Sales

This is an offshoot of the transactional revenue model, in which a customer pays directly for a product or service, except that customers must first come to your company via a web search or outbound marketing, and conduct transactions solely over the internet.

    Advantages: Web sales work with a wide variety of offerings, including software, hardware, and even subscription services.
    Disadvantages: Relationship sales are incompatible with the web sales model, so if your company is related to consulting or big ticket items (high-value items such as houses, appliances, and cars), you should consider employing a model that’s more suited to your offering.

6. Direct Sales

There are two types of direct sales: inside sales, in which someone calls in to place an order or sales agents calling prospects; and outside sales, which is a face to face sales transaction.

    Advantages: Direct sales models work great with relationship sales cycles, enterprise sales cycles, or complex sales cycles that entail multiple buyers and influencers.
    Disadvantages: The direct sales model often requires hiring a sales team of some sort, which means that it isn’t optimal for small ticket price items. If your offering is priced below the $1,000-$2,000 range, you’ll have trouble building a scalable company.

7. Channel Sales (or Indirect Sales)

The channel sales model consists of agents or resellers selling your product for you and either you or the reseller delivering the product. The affiliate revenue model is a good companion model to this one, especially if your offering is a virtual product.

    Advantages: The channel sales model is ideal for companies who have a product that’s an incremental sale for their channel and can produce incremental profit.
    Disadvantages: Don’t employ this model if your product requires you to evangelize your marketplace, or if your product competes with that of your partner’s, as they will push theirs and not yours.

8. Retail Sales

Retail sales entails setting up a traditional department store or retail store in which you offer physical goods to your customers. Keep in mind that the retail sales model will require shelf space (that you’ll have to pay for) at existing stores, and is best suited for products that require logistics to reach your customers.

    Advantages: Retail sales is a great way to offer deals and complimentary products to an existing customer base to help boost brand awareness.
    Disadvantages: The retail sales route is not ideal for early stage companies, or companies that offer digital products like software or apps.

In the Domain.me article, “Planning The Expansion and Revenue Models for your Startup”, Sarah Green lists even more effective revenue models for startups, including two that are based around the idea of giving something to your customers for free to help generate revenue at a later point.

9. Product is Free, But Services Aren’t

This model is unique compared to others, in that you have to give your product away for free, yet require customers to pay for installation, customization, training or other additional services.

    Advantages: This model is great for building trust with your customer base and boosting brand awareness, as any company that offers anything for free will generate considerable buzz.
    Disadvantages: Remember, employing this model means that you are basically running a services business with the product as a marketing cost. Also, a model like this isn’t always the best for scaling your company in the long term, so keep your eye on additional revenue models to utilize later on.

10. Freemium Model

The freemium model is one in which a company’s basic services are free, yet users must pay for additional premium features, extensions, functions, etc. One of the biggest companies to use this model is Linkedin, the most popular business/social media platform.

    Advantages: Similar to the previous model, the freemium model offers something free to users, which is a great way to give them a taste of your product or service while simultaneously enticing them to pay for something later on.
    Disadvantages: This model requires a considerable investment of time and money to reach out to your audience, and even more effort to convert free users into paying customers.
  
Final Thoughts

Remember to do your research, and take the time to decide which model is most ideal for your startup, as once you settle on a revenue model, especially if you’re early stage, it can be hard to pick another. As stated before, this blog post doesn’t cover every revenue model used by startups, but by highlighting the most popular ones, you should have enough information to help you pick the revenue model that will boost your startup into the big leagues.

4 Aturan OJK Tentang Bisnis Peer to Peer Lending yang Perlu Kamu Ketahui

Add Comment
Pada tanggal 6 Desember 2016 silam yang lalu, lembaga Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah meluncurkan rancangan aturan tentang layanan pinjam meminjam uang berbasis teknologi informasi. Di dalam rancangan aturan tersebut, OJK berusaha mengatur berbagai hal yang harus ditaati oleh penyelenggara bisnis pinjaman dari pengguna ke pengguna, atau yang biasa disebut dengan peer to peer lending (P2P lending).

Tidak lama berselang, tepatnya pada tanggal 29 Desember 2016 yang lalu, rancangan tersebut pun resmi diundangkan sebagai Peraturan OJK dengan nomor 77 / POJK.01 / 2016. Berikut ini adalah beberapa isi dari aturan tersebut yang perlu kamu ketahui.

Kepemilikan saham asing maksimal 85 persen


Hal pertama yang diatur oleh OJK dalam bisnis P2P lending adalah batasan kepemilikan pihak asing terhadap layanan yang bergerak di bisnis tersebut. Dalam pasal 3, OJK menyebutkan kalau pihak asing hanya boleh mempunyai saham sebesar maksimal 85 persen.
OJK pun mengizinkan pihak asing untuk berpartisipasi sebagai pemberi pinjaman, namun mereka tidak boleh mendaftar sebagai penerima pinjaman. Syarat lain yang harus diikuti oleh penyelenggara bisnis P2P lending adalah mereka juga harus terdaftar sebagai anggota asosiasi yang ditunjuk oleh OJK.

Modal minimal Rp 2,5 miliar

Untuk menyelenggarakan bisnis P2P lending, OJK mengharuskan kepemilikan modal minimal Rp1 miliar pada saat pendaftaran. Namun pada saat mengajukan perizinan, jumlah modal tersebut harus sudah naik hingga mencapai Rp2,5 miliar.
Nilai modal ini cenderung lebih ringan dibanding angka yang disebut OJK dalam rancangan aturan sebelumnya, yang menyatakan kalau modal minimal pada saat pendaftaran adalah Rp2 miliar, dan Rp5 miliar pada saat pengajuan izin.

Batas maksimal pinjaman dan bunga

Pinjaman Uang | Ilustrasi

OJK juga membatasi maksimal pemberian dana pinjaman dalam bisnis P2P Lending ini sebesar maksimal Rp2 miliar.
Berbeda dengan rancangan aturan yang dibuat sebelumnya, aturan resmi yang dirilis OJK ini tidak menyebutkan batas bunga yang dibolehkan dalam bisnis P2P Lending. Sebagai informasi, dalam rancangan aturan sebelumnya OJK menyebut kalau tingkat suku bunga yang dibolehkan adalah tujuh kali lipat dari BI 7-day Repo Rate per tahun, yang saat ini berkisar di angka lima persen.

Keharusan pembuatan escrow account

Dalam bisnis P2P Lending, seorang penyelenggara tidak boleh menyentuh sepeser pun dana pinjaman yang mengalir dari pemberi pinjaman kepada penerima pinjaman, dan sebaliknya. Mereka hanya boleh menerima komisi dari setiap transaksi pinjaman yang terjadi di platform mereka.
Simak bagaimana startup ini rela mengubah model bisnis demi menyesuaikan dengan aturan OJK
Untuk memastikan hal tersebut, OJK pun mengharuskan penyelenggara P2P Lending untuk menyediakan virtual account bagi setiap penerima pinjaman. Para pemberi pinjaman nantinya akan mengirimkan dana pinjaman ke virtual account tersebut.
Adapun untuk proses pelunasan, penyelenggara P2P Lending harus menyediakan sebuah rekening bersama alias escrow account. Penerima pinjaman harus mengirimkan kembali dana yang mereka pinjam ke rekening tersebut, untuk kemudian disalurkan kepada para pemberi pinjaman.

(Diedit oleh Pradipta Nugrahanto techinasia)

What Line, Netflix, and Clash of Clans have in common? Why? The following explanation

Add Comment

Think of the mobile apps that you love and use all the time and the ones that might frustrate you. They may have more in common than you think. While video streaming apps like Netflix or messaging apps such as Line are a staple for many, we don’t realize that they fall into a category that people have often disliked — freemium apps.
Many people associate the freemium monetization model with game apps that use tactics designed to convince users to make in-app purchases. Think of games like Farmville or Clash of Clans, where gameplay is intentionally designed to entice users to pay to advance through the game faster. Nobody likes to admit that they spent US$50 on Two Dots at 3am.
Lumping that deep feeling of shame with popular apps like Line and Netflix doesn’t make sense. Or does it?

What exactly is freemium?

Checking smartphone.
Photo credit: Pexels.
According to Investopedia, freemium is a business model in which a product or service provides both free and premium options. Freemium apps are free to download, but money is charged for proprietary features, functionality, or virtual goods.
It’s clear how games like Two Dots and Clash of Clans would fall into this category. Virtual goods bought with real money allows players to progress quicker. But apps like Spotify also work on freemium pricing. The base app is free, but users can improve their listening experience by paying for higher-quality tracks and a host of other features on Spotify Premium.
Nobody likes to admit that they spent US$50 on Two Dots at 3am.
Monetizing mobile apps is hard, but freemium apps are taking up a large portion of app revenue. Freemium apps reportedly collected over US$30 billion revenue in 2016; this figure is projected to double by 2020. According to App Annie’s App Monetization Report, in-app advertising and freemium apps will account for over 90 percent of app revenue between 2015 and 2020.
App Annie’s report highlights that freemium apps can take several different forms. As apps like Spotify prove, freemium doesn’t have to be manipulative or coercive. It’s up to the app publisher to pick a monetization strategy that fits the value proposition of the app and the audience it caters to.
Here’s how five popular apps use the freemium model for monetization.

Netflix

Inside Netflix HQ war room - photos
Photo credit: Tech in Asia.
Streaming service Netflix is one of several freemium apps that uses the subscription model. According to App Annie, subscriptions are becoming more common and now account for roughly 15 percent of all app store revenue.
Netflix’s bread-and-butter is paid subscriptions, but they draw paying users in through free trials. The service is free for a month – with full functionality – after which you’ll have to pay. This helps convince users of the app’s value, and helps Netflix retain as many users as possible.

Dropbox


Popular storage service Dropbox monetizes through limitations to their service. The app offers limited storage space for free; users pay extra to expand their storage space.
Many other online services use this freemium model, limiting access to content, bandwidth, or gameplay. For example, The New York Times limits the articles you can read before prompting the user to sign up for a subscription to gain full access to all articles. Similarly, you can pay US$0.99 to unlock new levels in Candy Crush.

Line


Line’s main function may be messaging, but it monetizes through additional features. It grossed over US$1 billion in sales in 2015, and App Annie named it the top-earning non-gaming app publisher for the year. Over 40 percent of sales were attributed to in-app purchases in social games, which are all free to download. A smaller percentage is taken up by the app’s sticker store.
Freemium doesn’t have to be manipulative or coercive.
Purchases made within the sticker store are motivated by a user’s desire to enhance their experience with the app. Users have free access to a few basic sets of stickers, but for a small fee they can expand their sticker library and even gift stickers to their friends.
This method of monetization is popularly used in games such as Clash of Clans, where you can pay for gold or elixir to improve your gameplay. Dating app Tinder also uses this method: You can pay for features that increase chances of a good match.

Trivia Crack

Photo credit: Google Play Store.
Many other gaming apps use advertising to incentivize users to pay. App Annie’s report points to in-app advertising currently being the biggest source of revenue for mobile apps. Apps like Trivia Crack take this further — users can remove ads by paying a small fee.
But this model relies on the assumption that users won’t find alternative, free methods – like mobile ad blockers – to remove the ads in the first place. There’s also the danger that users get fed up with the app and seek out ad-free competitors.

Spotify

Waktunya-Spotify-Feature
Photo credit: Spotify.

Other apps may use a combination of methods to convert more users into paying customers. Spotify is a great example. Like Netflix, the music streaming service provides a short free trial of its paid subscription service, Spotify Premium. Unlike Netflix, Spotify allows listeners to stick to the free version. However, it’s different to the premium version in many ways.
Like in Trivia Crack, the free version has audio ads between songs. Like Dropbox, the free version also limits audio quality to 160kbps. Spotify lets you pay to remove the ads, improve the audio quality to 320kbps. It also gets you new features – in this case, offline listening.

Get creative with in-app purchases

As the apps above show, freemium is a large and diverse subset. Apps are becoming more creative with the ways they generate revenue, and it’s time to shake off the misconceptions we have about in-app purchases. An app doesn’t have to be a Candy Crush to be profitable anymore.

Annie Teh | Techinasia

Berapa Valuasi website populer di indonesia? berikut daftar harga 6 website populer indonesia

6 Comments

Website bukan hal baru di indonesia, sarana perkembangan teknologi yang sangat pesat menjadikan website salah satu alternatif ladang pencarian informasi, e-commerce, sosial. tahukah Anda bahwa ada 293.000 status dibuat di Facebook setiap menitnya, atau 5.000.000 video ditonton di youtube dalam setiap menit dan 433.000 tweet dibuat di Twitter dalam satu menit, jumlah yang sangat besar tersebut menjadikan website sebagai tren baru dalam dunia industri teknologi informasi

Berikut estimasi daftar harga website populer indonesia berdasar rank, alexa, unik visitor
1. Bukalapak
Estimasi harga website buka lapak Rp 365.261.897.867

Dengan kriteria :
Unik Visitors Pertahun:  33.511.084
Page Views Pertahun : 134.044.363
Pendapatan Iklan Pertahun Rp 4.021.330.882
Google Index : 18.300.000
Bing Index : 304.000
Google Backlinks :  4.120.000
Alexa : 373

via Ceksite.com

2. Tokopedia


Estimasi harga website Tokopedia Rp 156.256.900.792

Dengan kriteria :
Unik Visitors Pertahun:  40.495.246
Page Views Pertahun : 161.981.031
Pendapatan Iklan Pertahun Rp 4.859.430.932
Google Index : 5.140.000
Bing Index : -
Google Backlinks :  1.270.000
Alexa :288

3. Kaskus


Estimasi harga website Kaskus Rp 197.021.651.921

Dengan kriteria :
Unik Visitors Pertahun:  34.322.908
Page Views Pertahun :137.291.734
Pendapatan Iklan Pertahun Rp 4.118.752.014
Google Index : 6.440.000
Yahoo Index : 1.610.000
Bing Index : 24
Google Backlinks :  4.100.000
Alexa :361

4. Traveloka


Estimasi harga website Traveloka Rp 34.222.019.321

Dengan kriteria :
Unik Visitors Pertahun:  5.598.277
Page Views Pertahun : 22.393.018
Pendapatan Iklan Pertahun Rp 671.790.530
Google Index : 6.800.000
Yahoo Index : 9
Bing Index : 9
Google Backlinks :  124.000
Alexa :4.299

5. Blibli

Estimasi harga website Blibli Rp 25.990.094.795

Dengan kriteria :
Unik Visitors Pertahun:  10.657.573
Page Views Pertahun : 42.630.374
Pendapatan Iklan Pertahun Rp 1.278.911.223
Google Index : 1.520.000
Yahoo Index : 0
Bing Index : 1
Google Backlinks :  402.000
Alexa :1.784

6. Lazada.co.id

Estimasi harga website Lazada Rp 116.691.077.451

Dengan kriteria :
Unik Visitors Pertahun:  25.841.162
Page Views Pertahun : 103.364.723
Pendapatan Iklan Pertahun Rp 3.100.941.697
Google Index : 2.730.000
Yahoo Index :30
Bing Index :30
Google Backlinks :  6.090.000
Alexa :532

Valuasi harga tidak termasuk segi bisnis, dan harga saham beserta aset yang ada, hanya website saja 






Belajar Cara Bisnis Dengan Mengenal The Element of Value – Bagaimana Customer Mengevaluasi Product atau Service

2 Comments
Baru baru ini riset harvard membeberkan element of value yang menurut saya perlu dipelajari oleh para founder
Ketika customer mengevaluasi produk atau service, mereka akan memberi bobot terhadap perceived value, dibandingkan dengan harganya. Marketers pada umumnya memfokuskan waktu dan energinya untuk me-manage sisi harga dari persamaan tersebut, misalnya menaikkan harga bisa secara cepat menaikkan profit. Tetapi harga biasanya hanya terdiri dari faktor kecil, selain itu analisa dan taktik pricing terus berevolusi.
Apa yang di value oleh customer sebenarnya sulit untuk dijelaskan dan cukup kompleks secara psikologis. Bagaimana seorang founder secara aktif me-manage value atau merancang cara untuk mendelivernya dengan lebih dalam lagi, baik itu fungsional (menghemat waktu, menurunkan biaya) atau emosional (meredakan ketakutan, menyediakan entertainment)? Membuat konsep baru membutuhkan antisipasi tentang apa yang dianggap orang lain valuable.
Jumlah dan sifat dari value dari suatu produk atau service selalu ditentukan oleh orang yang membeli – tentu saja, tetapi universal building block dari sebuah value tetap ada, membantu Anda, para founder dan perusahaan untuk meningkatkan performa di market Anda dan menciptakan hal baru. Model yang tepat dari consumer value membantu perusahaan untuk membuat kombinasi value yang bisa dideliver oleh produk dan servicenya.


Kombinasi yang bagus bisa menghasilkan customer loyalty, kemauan customer untuk mencoba brand dan revenue growth yang sustain.
Berikut ini adalah 30 element value – attribute dari value yang sangat esensial dan masing-masing sangat unik. Elemen ini terdiri dari 4 kategori : fungsional, emosional, life changing, social impact. Beberapa elemen sangat fokus ke dalam diri consumer dengan memenuhi kebutuhan pribadi, misalnya element motivasi life changing adalah inti dari produk tracking olahraga dari fitbit. Beberapa sangat fokus ke luar, membantu customer berinteraksi dengan dunia external.
elemen-dan-faktor-dari-value

Siapa yang Akan Memenangkan Peperangan Harga, Uber, Grab, atau Taksi?

Add Comment
Taruhannya sangat besar bagi pendatang baru yang ingin masuk ke pasar transportasi online di Asia Tenggara. 2 kompetitor raksasa yaitu Grab dan Uber bertarung untuk menguasai pangsa pasar, yang diperkirakan akan bertumbuh sebesar 13 Miliar Dollar AS pada tahun 2025.

Grab, dengan pengalaman selama kurang lebih 4 tahun di pasar Asia Tenggara telah di-back up dana sebesar 750 juta Dollar AS dari Softbank, pada September tahun 2016. Disisi lain, Uber yang telah meninggalkan Cina dan menjual perusahaan mereka ke Didi pada Agustus 2016, saat ini fokus pada pasar Asia Tenggara dengan cara menambah sumber daya sebanyak dua kali lipat dan meningkatkan teknologi yang mereka miliki. Dengan begini, kompetisi transportasi online di Asia Tenggara akan semakin panas.

Research dari iPrice ini dilakukan untuk mengindentifikasi dan membandingkan mode transportasi termurah antara 2 aplikasi transportasi paling terkenal dengan taksi konvensional di masing-masing negara Asia Tenggara. Hasilnya menunjukan bahwa Grab, Uber maupun Taksi konvensional memiliki komponen harga yang berbeda dan harga yang juga berbeda.

Di Indonesia, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, Makasar dan Bali kondisi jalanan akan padat pada jam pergi dan pulang kerja. Rata-rata masyarakat menghabiskan 1-3 jam di jalanan.

Kondisi jalanan seperti ini mendorong masyarakat untuk memilih mode transportasi yang paling murah, paling cepat dan paling mudah untuk didapatkan. Setidaknya saat ini ada 3 pilihan transpotasi utama yang dapat dipilih, Taksi konvensional atau tranportasi online seperti Uber dan Grab.

Walaupun terjadi perdebatan dari sisi regulasi dengan pemerintah dan juga pengendara taksi konvensional, pelanggan akan tetap menjadi raja. Masyarakat Indonesia akan memilih transportasi yang memiliki pelayanan terbaik dan harga termurah. Apakah Taksi konvensional lama-kelamaan akan hilang karena kalah bersaing dengan Grab dan Uber? Atau tetap memiliki tempat di hati masyarakat?

Sumber: Studi iPrice

10 Entrepreneur Sukses ini Tidak Mengerjakan Apapun Hingga Usia 30

Add Comment
Ini adalah bukti bahwa Anda tidak perlu menjadi orang jenius untuk sukses. Bahkan entrepreneur yang sangat sukses ini tidak mengerjakan apa-apa hingga umur 30 tahun.

Ada rumor bahwa Paul Graham, founder dari incubator yang paling sukses di dunia, pernah berinvestasi untuk seseorang karena dia terlihat seperti Mark Zuckerberg. Tapi usia muda bukanlah persyaratan untuk membangun perusahaan yang sukses.

Jack Dorsey, Twitter – 30 tahun

Mungkin bagi Anda Jack merupakan entrepreneur pintar dan luar biasa, tapi hingga pertengahan umur 20 tahun dia menjadi pemain skateboard.
enterpreneur-sukses-jack-dorseyPerusahaan pertama Dorsey (dimulai saat dia di NYU) merupakan program pengiriman taksi.
Ketika perusahaannya mulai menurun, Dorsey mendekati Ev Williams, yang menjalankan Odeo, sebuah perusahaan podcast. Dia melakukan pitching ide untuk servis instant messaging.
William menyukai konsepnya dan bekerja dengan Dorsey, Biz Stone, dan Noah Glass untuk mewujudkan konsepnya. Dorsey ditunjuk sebagai CEO. Dia berumur 30 tahun saat itu.

Tim Westergren, Pandora – 35 tahun

Tim Westergren memulai Pandora di usia 35 tahun. Tapi di tidak bisa membayar gaji selama dua tahun
enterpreneur-sukses-tim-westergren
Sebelum memulai Pandora, Westergren seorang musisi yang tidak berhasil, part-time composer, pengasuh, dan hippy.
Meskipun dia memulai Pandora (usaha entrepreneur pertamanya) di usia 35 tahun, Pandora tidak menjadi channel radio online hinnga Westergren berumur 37 tahun.
Pandora dimuali sebagai perusahaan hardware yang membiarkan toko memainkan music. Pandora bahkan bangkrut pada dua tahun pertamanya dan Westegren entah bagaimana bisa meyakinkan 50 karyawannya untuk bekerja tanpa dibayar – selama dua tahun.
Inilah pidato yang disampaikan kepada karyawannya setiap minggu yang meyakinkan mereka untuk tetap di perusahaan Westergren.

Jan Koum, WhatsAp – 33 tahun

Sebelum membuat WhatsApp, Jan Koum melamar kerja di Facebook. Mereka menolaknya.
Seth McGann, Andrew Reiter, Dug Song, and Jan Koum are pictured at the DefCon hacker convention in Las Vegas, Nevada
Koum menjalankan WhatsApp pada ulang tahun ke-33. Dia dikeluarkan dari perguruan tinggi San Jose State.
Setelah meninggalkan sekolah, dia bekerja di Yahoo kemudian bertemu Brian Acton, cofounder Koum saat ini. Setelah Sembilan tahun di Yahoo, Koum melamar kerja di Facebook dan ditolak.

Jack Ma, Alibaba – 35 tahun

Jack Ma tidak pernah menuliskan coding, dan pertama kalinya dia menggunakan komputer adalah di usia 30 tahun.
Saat ini dia memiliki harta $22.5 milyar, tapi sampai umur 30 tahun dia berpikir bahwa dirinya sudah gagal. Ma gagal melewati ujian masuk perguruan tinggi sebanyak tiga kali. Setelah itu, dia melamar ke 30 pekerjaan yang berbeda, termasuk KFC, dan lagi, dia ditolak.
Jadi pada usia 31 tahun, Ma memulai perusahaan internet pertamanya yang disebut “China Yellow Pages.” Perusahaannya berhasil membuat sekitar $800,000 dalam waktu tiga tahun.
Pada usia 35 tahun, dia mendirikan Alibaba. Seperti Amazon, Alibaba tidak menghasilkan profit pada tiga tahun pertamanya, tapi kita semua tahu bagaimana ceritanya saat ini.

Ben Horowitz, LoudCloud – 33 tahun

Setelah memulai perusahaan pertamanya di usia 33 tahun, Ben Horowitz sering berada di ambang bangkrut.
enterpreneur-sukses-ben-horowitz-loudcloud
Setelah lulus dari UCLA pada tahun 1988 dan berganti-ganti pekerjaan selama tujuh tahun, pada usia 29 tahun Ben Horowitz bergabung dengan Netscape sebagai product manager.
Setelah Netscape diakuisisi pada tahun 1999, Horowitz dan Marc Andreessen (founder Netscape) bergabung untuk membuat LoudCloud. Horowitz berusia 33 tahun pada saat itu.
Dalam buku Horowitz, The Hard Things About Hard Things, dia menyampaikan tentang kejadian (hampir bangkrut) yang dihadapi LoudCloud, seperti dua minggu tidak membayarkan gaji. Untungnya Loudcloud diakusisi dengan nilai sebesar $1.6 milyar ketika Horowitz berusia 41 tahun.

Sam Walton, Walmart – 44 tahun

Sebelum Sam Walton mendirikan WalMart, dia memiliki toko kecil bersama ayah mertuanya.
enterpreneur-sukses-sam-walton-walmart
Pada tahun 1945, sebelum memulai WalMart, Sam Walton memiliki pinjaman sebsar $20,000 (sekitar $250,000 jika saat ini) dari ayah mertuanya dan membeli toko franchise Ben Franklin, sejauh 220 mil. Tapi meskipun Walton mengelola dua toko, dia masih kesulitan untuk membayar karyawannya.
pada tahun 1945, ketika Walton berusa 44 tahun, dan memiliki pengalaman bisnis selama bertahun-tahun, dia membuka WalMart pertama.

Peter Thiel, PayPal – 30 tahun

Salah satu investor tech paling sukses di dunia ini hampir masuk ke sekolah hokum
Peter thiel, Elon Musk
Sebelum menjadi founder Paypal, Peter Thiel merupakan seorang pengacara yang membenci hidupnya. Setelah lulus dari Stanford Law pada tahun 1992, Thiel bekerja di perusahaan hokum Manhattan, sebuah tempat yang menurutnya “dari luar semua orang mau masuk ke sana,” tapi, ‘di dalam… semua orang ingin meninggalkan tempat ini.”
Setelah tujuh bulan Thiel keluar, dan bergabung dengan Credit Suisse sebagai derivative trading (perdagangan berjangka), eBay mengakuisisi PayPal sebesar $1.5 milyar, membuat saham di perusahaannya bernilai sekitar $50 juta.

Reed Hastings, Pure Software – 30 tahun

Reed Hastings bekerja di Peace Corp di usia 20an.
enterpreneur-sukses-reed-hastings-pure-software
Kebanyakan orang tidak menyadari ini, tapi Reed Hastings sebenarnya seorang entrepreneur yang berhasil sebelum dia memulai Netflix. Pada tahun 1991, ketika usianya 31 tahun, Hastings memulai Pure Software, sebuah tool debug untuk software engineer. Hastings, seorang engineer terlait, membantu perusahaan meningkatkan revenue perusahaan dua kali lipat setiap tahunnya. Pada tahun 1997, ketika Hasting berusa 37 tahun, Rational Software mengakuisisi Pure Software untuk $750 juta, memberikan Hasting peluang untuk mendirikan Netflix.

Henry Ford, Ford Motor Company – 40 tahun

Sebelum memulai Ford pada usia 40 tahun, aliran perfeksionis Henry Ford membawa kegagalan karena melewatkan deadline membuat prototype.
enterpreneur-sukses-henry-fordMeskipun dia menciptakan salah satu keberuntungan terbesar dalam sejarah kehidupan manusia ($199 miliar), dua perusahaan pertama Henry Ford bangkrut sebelum memulai Ford. Ford, seperti Steve Jobs, merupakan seseorang yang perfeksionis yang sangat mempedulikan setiap detail kecil dari mobilnya.
Setelah bertahun-tahun mengalami kegagalan, investor Ford meyakinkan dia untuk memperkerjakan James Couzen. Couzen meyakinkan Ford untuk menjual sebuah mobil “imperfect” dan memiliki mekanis di seluruh negara yang dilatih untuk memperbaiki mobil yang rusak

Mark Cuban, MicroSolutions – 32 tahun

28 tahun Mark Cuban membagikan apartemen tiga-kamar tidur dengan lima orang. Kamar tidurnya berada di lemari.
enterpreneur-sukses-mark-cuban-microsolutions
Pada usia 24 tahun, Cuban lulus dari Indiana University dan pindah ke Dallas untuk bekerja sebagai seorang bartender. Usaha awalnya setelah lulus sekolah adalah menjual komputer sejumlah $18,000 setahun. Tapi dia dipecat karena tidak patuh dengan atasannya. Pada usia 25 tahun dia memulai MicroSolutions, sebuah perusahaan konsultasi untuk software. Setelah tujuh tahun, Cuban menjual MicroSolutions seharga $6 juta… cukup baginya untuk mendirikan Broadcast.com, yang dijual dengan $5,7 juta.
Powered by Blogger.