Kemelut Antara Transportasi Konvensional dan Online, Siapa Yang Benar?

Berita gelombang aksi penolakan transportasi online semakin menyebar, boikot sampai mogok mangkal terjadi di wilayah yang terserang perluasan transportasi, UBER, GO-jek, Grab, adalah media transportasi online yang sering mendapat penolakan, mulai dari jakarta, bogor, bali, malang semua angkutan menolak transportasi online, dengan dalih menurunnya jumlah penumpang, lantas siapa yang benar? mengapa transportasi online disalahkan?

Mari kita mengulas sedikit saja tentang transportasi online, mungkin pertanyaan anda kenapa gojek bisa sebesar itu, apalagi Uber Dan Grab? padahal lebih dulu angkutan konvensional? perlu di ketahui Go-jek Belum lama ini, perusahaan penyedia transportasi online Go-Jek mendapat suntikan dana $550 juta atau setara Rp7 triliun (kurs Rp13.000 per dolar AS) dari perusahaan investasi asal Amerika Serikat KKR & Co. dan Warbug Pincus. Siapa sangka, investasi perusahaan asing tersebut membuat Go-Jek kini lebih bernilai daripada perusahaan transportasi konvensional?

Masuknya modal besar membuat perusahaan transportasi berbasis teknologi ini lebih bernilai daripada perusahaan transportasi konvensional besar yang sejak lama beroperasi di Indonesia, seperti maskapai Garuda Indonesia, dan operator taksi Blue Bird, yang sebenarnya memiliki aset bernilai tinggi. dan di kabarkan melebihi Garuda Indonesia? hal seperi inilah yang membuat kecemburuan di kalangan angkutan umum.

Pada dasarnya cara kerja Gojek ini adalah mempermudah cara memesan layanan seperti ojek, antar makanan dan layanan-layanan lainnya melalui aplikasi android/iOS dengan informasi tarif yang sudah diinformasikan sebelumnya

Pemerintah pun turut andil dalam menerapkan kebijakan, tapi apakah dengan menerapkan tarif atas dan bawah akan mampu meredam para supir angkutan yang marah karena penumpangnya mulai sepi?

Namun yang perlu di garis bawahi, model bisnis aplikasi seperti Go-Jek, ini hanya mempertemukan pemilik kendaraan dan user atau penumpang. pada dasarnya kalau mereka terlebih dulu merangkul para angkutan umum, mungkin aksi demo seperti itu tidak akan terjadi.

salah satu startup di malang bernama Tabook, adalah salah satu startup yang menerapkan model bisnis yang berbeda, tabook adalah startup yang bergerak dalam bidang travel, layaknya traveloka mereka terlebih dahulu merangkul para agen kendaraan umum untuk di jadikan bagian dari aplikasi secara struktural.

Jadi menurut kalian sistem manakah yang baik untuk di terapkan di indonesia? tulis pendapatmu di komentar!!

linkfo Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *